Langsung ke konten utama

Postingan

Harga Barang Naik Bwang, Kalian Aman?

 Jujur gw ga terlalu memperhatikan kondisi global sebelum gw bekerja di grassroot business aka pasar tradisional. Mungkin ya di pekerjaan sebelumnya gw tarlalu terfokus dengan meeting mingguan, reporting dan semua hal yang berhubungan dengan kerjaan gw. Gw ga terlalu mikirin harga barang naik, harga minyak naik, harga bbm naik (selama naiknya ga tinggi-tinggi amat ya), dan juga jujur gw kan beberapa tahun lalu masih bujang ya, jadi tidak se berpengaruh itu perubahan harga. Saat ini gw bekerja di pasar tradisional, gw sekarang meneruskan mengelola toko sembako keluarga, ga besar tapi paling ga bisa menghidupi keluarga gw dan juga beberapa orang yang bekerja di tempat gw. Di toko ini ada banyak pedagang yang belanja kebutuhan mereka, mulai dari plastik, bahan baku sampai kebutuhan bahan pokok. Ada juga ibu rumah tangga yang mengelola kebutuhan keluarga dengan beli barang-barang dari tempat gw.  Dari dua kategori konsumen utama yang gw kelola tersebut gw bisa melihat pengaruh dar...
Postingan terbaru

Project Mas Warung

 Blog ini akan jadi tempat gw untuk melakukan review dari project ini. Karena gw sekarang fokus kerja di warung, dan punya privilege waktu yang lebih dibandingin orang lain, dan gw juga masih terpapar informasi dari tempat gw bekerja dulu gw selalu kepikiran untuk membuat konten yang bisa di nikmati orang. Menurut perspektif gw yang sangat subjetif, gw adalah orang yang sangat serius ketika melakukan sesuatu yang berhubungan dengan sharing dengan orang lain. Tapi ya gitu kadang gw ngerasa terlalu penat karena selalu harus memberikan sesuatu yang berisi (paling ga menurut gw). Akhirnya karena ke isengan gw kemarin, gw mau mencoba sesuatu yang diluar kebiasaan. Akhirnya muncul lah projek Mas Warung Paling Kalcer Se Ciledug Jujur ini projek seru-seruan aja di TikTok dan Instagram (meskipun IG gw private ya). gimana caranya bikin konten dengan effort sedikit tapi tetep bisa posting. Awalnya aneh sih nyoba posting konten kaya gini, tapi ternyata oke juga. Tapi gini, dari pengalaman gw y...

Why Do We Feel Privilege is a Sin

Privilege is something that some people try to avoid, including me. I come from a family that does not have any major problems. Yes, we had some economic issues when I was a child, but as I entered my teenage years, our family’s financial situation began to improve. We own a shop that generates enough money for me to pursue my Master’s degree at a private university, which is quite expensive. I never want to continue my family business because I want to build my own path to generating income and achieving greater success. However, I just realized that my actions were driven by my ego, wanting to avoid others’ perspectives. I was afraid of being judged for using my privilege to make money, and I worried that people would say I was lucky to continue something that already existed. Shop I Manage This thought occurred to me while I was reading a book titled The Courage To Be Disliked, which highlights Adler's philosophy. Personally, this book struck me hard; it changed my perspective a...

Ke(Sempat)an

Butuh waktu yang cukup lama untuk kembali menulis di tempat ini. Padahal hampir setiap hari gw duduk di depan layar dan browsing internet. Rasanya agak berat sih untuk nulis lagi, padahal dari lubuk hati yang paling dalam ada kerinduan tersendiri untuk membuat konten yang bisa dikonsumsi banyak orang. Mungkin memang gw masih males aja sih. Sekarang gw punya waktu yang lebih luang dibandingkan dengan orang-orang di sekitar. Memang gw berangkat lebih pagi di jam 5 pagi tapi jam 12 gw sudah selesai dan bisa pulang (nanti gw akan cerita lebih banyak soal pekerjaan). kalau di pikir ada waktu yang cukup panjang disitu. Memang sih gw perlu istirahat siang, tapi kan ya masih banyak waktu luang yang gw punya. Toh untuk pekerjaan kali ini gw hampir tidak pernah membawa pekerjaan ke rumah, kalau pun iya bukan pekerjaan yang memerlukan banyak pikiran. Kalau boleh jujur nih, gw bukan seorang konten kreator, gw juga ga suka menampilkan muka gw di depan kamera. Tapi ada perasaan yang mendorong buat b...

Kembali Ke Tempat Ini

 7 tahun sudah berlalu sejak terakhir kali gw nulis di blog ini. Sudah banyak banget Pelajaran dan pendewasaan diri yang gw dapetin selama 7 tahun terakhir, mulai dari pekerjaan baru, Pendidikan baru hingga kehidupan yang baru. Jujur kalau gw lihat semua post sebelumnya yang memang ga banyak, terjadi perubahan yang cukup besar. Dari Jalu yang sangat idealis dan menggebu-gebu tentang apa yang akan dia lakukan, menjadi Jalu yang realistis lebih pelan dan lebih hati-hati. Mungkin ini yang disebut dengan proses pendewasaan. Sesuatu yang menjadi lebih menarik saat ini adalah status gw yang sudah berubah dari pria bujang yang bebas kesana kemari, menjadi seorang pria yang sudah memiliki istri dan menjadi bapak rumah tangga. Jujur menjadi seorang suami membuat gw menjadi pribadi yang cukup berubah. Gw yang sekarang jauh lebih berhitung, tidak sekedar membahas dan memperjuangkan idealisme tapi juga berhitung dan sangat jauh lebih realistis. Mungkin salah satu hal yang membuka mata gw ada...

Re(Solusi) 2019

     2018 akhir jadi masa di mana gw menguatkan diri untuk memulai sebuah karya(jailah bahasanya). Ya emang, semenjak september 2018 gw memulai untuk bikin channel podcast gw sendiri. Sebenernya sih sempet kepikiran buat bikin youtube tapi entah kenapa gw ngerasa gak pede dengan penampilan gw dan segala peralatan gw sebenernya sangat amat terbatas, ya jadinya gw bikin podcast aja, toh dengan berbekal hp dan ide gw tetep bisa berkarya lewat jalur audio. Memang sih gw akui jangkauannya gk seluas youtube tapi buat gw pribadi gw sudah cukup puas dengan jalur audio, ya karena gw emang gk punya alat-alat yang mumpuni jg sih kalau bikin video.      Dan pada akhirnya podcast jalupinandito berhasil muncul di spotify pada awal oktober, yuuhuuu gaya bener gw udah kaya artis aja punya channel di spotify. Serunya lagi ini gratis tis dan gw gk ngeluarin uang sepeserpun untuk buat channel di spotify. Ah menarik memang klo misalnya kita mau kulik kulik manjah. Dan setelah...

Pilihan Sederhana

Antara pekerjaan dan teman. Antara kepentingan pribadi dan kelompok. Sebagai individu kita gk bisa menyelaraskan semua hal. Banyak pengorbanan yang mesti kita pilih. Kalo dari yang gw pelajari itu namanya opportunity cost. Dimana kita harus memilih salah satu dari dua hal yang kita anggap penting. Salah satu opportunity cost terbesar yang gw pernah lakuin ketika gw menjabat sebagai pengurus organisasi. Secara kebetulan anak-anak tongkrongan yang sering main sama gw jg masuk dan berkecimpung di organisasi di kampus gw. Naasnya organisasi yang di ikuti berbeda. Ya engga jarang sering terjadi konflik tapi masing-masing dari kami sadar klo kita hanya mengikuti kepentingan organisasi. Kata "PROFESIONALISME" sangat diuji disini, dimana kami mulai mengesampingkan hubungan sebagai profesional dan hubungan sebagai teman. Tapi disini akhirnya semua belajar. Akhir-akhir ini pemikiran ini muncul lagi. Kenapa masih banyak orang yang mencampuradukkan hubungan di dunia pekerjaan dan di ...