Jujur gw ga terlalu memperhatikan kondisi global sebelum gw bekerja di grassroot business aka pasar tradisional. Mungkin ya di pekerjaan sebelumnya gw tarlalu terfokus dengan meeting mingguan, reporting dan semua hal yang berhubungan dengan kerjaan gw. Gw ga terlalu mikirin harga barang naik, harga minyak naik, harga bbm naik (selama naiknya ga tinggi-tinggi amat ya), dan juga jujur gw kan beberapa tahun lalu masih bujang ya, jadi tidak se berpengaruh itu perubahan harga.
Saat ini gw bekerja di pasar tradisional, gw sekarang meneruskan mengelola toko sembako keluarga, ga besar tapi paling ga bisa menghidupi keluarga gw dan juga beberapa orang yang bekerja di tempat gw. Di toko ini ada banyak pedagang yang belanja kebutuhan mereka, mulai dari plastik, bahan baku sampai kebutuhan bahan pokok. Ada juga ibu rumah tangga yang mengelola kebutuhan keluarga dengan beli barang-barang dari tempat gw.
Dari dua kategori konsumen utama yang gw kelola tersebut gw bisa melihat pengaruh dari kebijakan makro ke industri UMKM dan juga ke rumah tangga. Gw tau sebenernya pengaruh dari kebijakan kebijakan dan kondisi global, tapi ga tau kondisi real dilapangan seperti apa, namun sekarang gw bisa lihat langsung impact yang bisa diberikan
.
Akan gw bagi ke 2 bagian supaya ga pusing. UMKM dan Juga Rumah Tangga.
UMKM
Supaya kita punya perspektif yang sama, UMKM yang gw maksud disini adalah pedagang makanan atau toko retail yang membeli produk atau bahan baku di tempat gw. Para pedagang ini merupakan usaha milik pribadi yang biasanya pemiliknya sendiri yang berjualan, kalau pun ada yang membantu biasanya adalah keluarga sendiri.
Mari kita mulai, kondisi saat ini adalah harga minyak dunia naik. Memang sampai tulisan ini dibuat, harga BBM di pertamina belum naik, namun harga plastik menjadi primadona karena kenaikan nya sampe 50% lebih. Untuk mempermudah penghitungan gw menggunakan penghitungan bodoh yang gw punya untuk menggambarkan kondisinya.
Anggap lah kita berjualan nasi uduk di pinggir jalan. Dengan modal 200,000 rupiah, harga per porsi ada di 8,000 (murah? memang ada yang masih seperti ini). Dengan skenario terbaik kita beranggapan keuntungan per porsi 100%, jadi Modal dari setiap porsi adalah 4,000 jadi kita hanya perlu jual 20 porsi untuk balik modal. Terlihat ga banyak kan yang ga perlu di jual? memang, tapi perlu di ingat effort dan resiko dari berjualan makanan matang mulai dari waktu memasak, resiko barang tidak laku sampai keadaan lainnya. Bayangkan aja kalau bahan pokok naik. ya harus dinaikin jumlah barang yang bisa dijual.
Jujur ini agak sulit sih jelasinnya, mungkin gw bikinin spreadsheet ya biar lebih gampang otak atiknya. boleh lah dibuka disini. bentukannya kaya gini
Hitungan Kasar Modal
Sebenarnya masih banyak cost yang lainnya tapi kita abaikan dlu ya buat mempermudah pembahasan.
Rumah Tangga
Untuk rumah tangga, pasti kita rumah tangga yang kita maksud adalah mid to medium low, jangan beranggapan mereka yang punya gaji 2 digit bakal ke pasar tradisional ya (inget pasar tradisional bukan fresh market atau pasar tradisional yang dikelola swasta). Ibu rumah tangga disini adalah mereka yang punya gaji UMR atau UMR lebih namun belum menyentuh 2 digit, dengan biaya anak sekolah yang perlu mereka tanggung.
Banyak yang gw temuin perbedaan angka 500 rupiah, yang buat kebanyakan orang cuma buat ngasih ke pengamen (kadang bisa kasih 2,000 kan kalian? ngaku aja) bakal sangat berpengaruh ke decision making mereka. Mereka bisa pindah dari satu toko ke toko lainnya cuma buat nyari barang.
Sekarang gini, komoditas plastik mungkin terdengar sepele, tapi sebenernya plastik tu udah jadi kebutuhan. Buang sampah sekarang perlu plasti, buat bekel anak sekarang perlu plastik, bahkan bikin es di kulkas aja perlu plastik. Harga nya naik, tapi kebutuhannya gw berkurang. Meskipun kita sudah mencanangkan go-green, tetap saja kebutuhan akan plastik tetap ada.
Itu baru plastik ya, belum lagi kebutuhan yang lainnya kaya sembako dan juga bahan pangan yang akan juga naik dengan adanya kenaikan harga di salah satu komoditas. Gw bikin itung-itungan sederhana aja, anggap aja barang naik 10% secara rata-rata, pertanyaannya gaji nya naik ga? Uang yang didapetnya naik ga? Kalau iya berarti aman, kalau tidak artinya perlu ada pengorbanan di sektor lain.
Awalnya gw ga terlalu mikirin, tapi setelah gw terjun ke industri ini, gw melihat betapa banyak orang-orang yang rentan dengan kenaikan harga ini. Larinya kemana? beberapa akah lari ke pilihan paling mudah. Ada bang keliling, ada pinjaman online yang mungkin bakal jadi kuburan lagi untuk mereka.
Ah mungkin gw bakal bahas soal bang keliling dan pinjaman online nanti, banyak banget cerita yang gw dapet disini. Tapi misalnya kalian bukan termasuk orang-orang yang gw bahas disini, bersyukurlah kalian, karena banyak sekali orang-orang yang masih berjuang disini buat bertahan hidup. Jangan kan nabung, untuk bertahan aja sulit.
Komentar
Posting Komentar